Sarang Semut dengan nama imiah myrmecodia pendans merupakan tanaman yang didalamnya digunakan sebagai sarang semut. Didalamnya terdiri dari labirun yang digunakan semut sebagai liang untuk melakukan aktifitasnya. Meski sebagai tanaman yang tidak biasa namun khasiat pengobatan yang dimiliki sangat luar biasa.
Sarang semut diperkenalkan pertama kali di pedalaman Papua yang biasa digunakan sebagai obat oleh warga setempat selain buah merah. Tanaman ini diolah sebagai campuran bubur dan juga sebagi minuman dengan tujuan untuk meningkatkan imunitas tubuh. Selain itu banyak juga yang menggunakan sebagi obat untuk berbagai penyakit dalam.Khasiat herbal yang dimiliki ditandai dengan kandungan zat-zat aktif seperti antioksidan, polifenol, dan glikosida yang terkandung dalamnya. Ketiga zat ini sangat membantu tubuh manusia untuk mengontrol beragam penyakit maut. Salah satunya sebagai imuno stimulan untuk menambah kekebalan tubuh. Secara teknis zat imuno stimulan akan membantu dan melindungi sel-sel tubuh agar dapat menjalankan pekerjaan dengan baik. Bila sel berfungsi baik maka penyakit gangguan sel bisa di cegah dan diobat. Penyakit ganguan sel yang paling sering diterima tubuh adalah kanker.
Kandungan zat yang dimiliki memang didukung oleh aktifitas semut di dalamnya dimana banyak zat yang menguntungkan tertinggal dalam bagian tanaman. Pada semut sendiri antioksidan berperan sebagai zat penting untuk proses pembentukan koloni. Selain itu juga sebagai benteng bagi tempat penyimpanan telur dari panyakit.
Bila di lihat kondisi ini hampir mirip dengan madu yang dikeluarkan lebah untuk melindungi telurnya. Pada semut khasiat yang muncul kemungkinan besar berasal dari kelenjar liur semut yang berinteraksi dengan tanaman dan beberapa mikroba lainnya.
Selain mencegah dan mengobati kanker sarang semut juga efektif membantu penyembuhan berbagai macam penyakit gangguan jantung, ambien (wasir), rematik, stroke, maag, gangguan fungsi ginjal dan prostat. Bahkan pegal linu, melancarkan ASI, migren, melancarkan pembuluh darah, lever, bahkan memulihkan gairah seksual juga bisa diambil dari khasiat tanaman ini.Ditambah lagi kandungan herbal yang dimiliki bisa menghambat enzim xantin oksidan yang bisa memicu asam urat dan radikal bebas.
Bagi penderita diabetes tanaman ini juga menjadi satu alternatif yang wajib dicoba. Pasalnya kandungan zat yang dihasilkan semut akan menetralisir kadar gula dalam darah.
Secara logika ini dimungkinkan sebab gula menjadi satu makanan utama semut dan dipastikan kandungan antibodi yang dimiliki terhadap senyawa gula sangat lengkap. Jadi lawan gula secara alami dengan zat yang dimiliki oleh semut lewat sarangnya. Sebab meski memakan gula semut tidak terkena diabetes
Untuk mendapatkan khasit sarang semut caranya sangat mudah. Potong kecil-kecil tanaman sarang semut yang sudah cukup dewasa. Ukurannya dewasa cukup mudah, setidaknya lebih besar atau sama dengan botol air mineral ukuran 1,5 liter. Sebab semakin besar akan semakin banyak koloni semut didalamnya dan makin banyak juga zat menguntungkan yang dimiliki.
Setelah dipotong tipis dan kecil, jemur hingga kering atau bisa dimasukkan kedalam oven. Dari potongan kering ini direbus sekitar 15-20 menit untuk mengekstrak kandungan didalamnya. Setelah itu air rebusan bisa diminum langsung dengan rasa seperti teh.
Ekstrak sarang semut bisa diminum setiap hari baik sebagai obat maupun pencegahan.Selain dalam bentuk potongan rumah semut juga bisa di kemas dalam bentuk serbuk dengan cara menumbuk potongan yang sudah kering.Dosisnya untuk satu sendok makan direbus dengan dua gelas air (400cc) sampai didapatkan satu gelas air rebusan. Buang ampasnya dan minum hanya air rebusan saja.
sumber :
http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/02/13/sarang-semut-obat-1000-penyakit/
Selengkapnya (More)...
Pohon kelapa dan buahnya mempunyai sejarah panjang di Indonesia, bahkan merupakan lambang atau pengenal kepulauan Indonesia.Yang menarik, dalam mitologi Hindu dan menurut Kitab Suci Weda, kelapa merupakan “pohon surgawi.” Konon, Dewa Wisnu, membawa pohon kelapa sebagai sumber kesehatan, ketenangan, panjang usia, dan kedamaian.Pohon kelapa dianggap suci, dan berperan penting dalam semua upacara keagamaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua bagian tanaman kelapa dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.Salah satu produk dari kelapa adalah airnya, ternyata dalam larutannya, air buah nyiur ini punya khasiat dan nilai gizi yang luar biasa. Bukan hanya unsur makro berupa nitrogen dan karbon, tetapi juga unsur mikro yang sangat dibutuhkan tubuh ada di air kelapa. Unsur nitrogen di dalamnya berupa protein yang tersusun dari asam amino, seperti alanin, sistin, arginin, alin, dan serin.Dibandingkan asam amino yang terdapat di susu sapi, asam amino yang terkandung dalam air kelapa ternyata lebih tinggi. Sementara unsur karbon dapat dijumpai dalam bentuk karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, fruktosa, sorbitol, inositol, dan lainnya.
Begitu pula dengan unsur mikro dalam air kelapa berupa mineral yang dibutuhkan sebagai penganti ion tubuh. Layak memang, bila setelah minum kelapa muda tubuh kita terasa kembali segar.Jika diteliti lebih jauh, air kelapa ternyata juga mengandung beragam vitamin.
Di antaranya vitamin C yang dominan, asam nikotinat, asam folat, asam pantotenat, biotin, serta riboflavin. Tak heran jika air kelapa juga dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional sekaligus kecantikan.Di samping itu, secara khusus, air kelapa kaya akan potasium (kalium)
Selain mineral, air kelapa juga mengandung gula (bervariasi antara 1,7 sampai 2,6 persen) dan protein (0,07- 0,55 persen). Karena komposisi gizi yang demikian ini, maka air kelapa berpotensi dijadikan bahan baku produk pangan.Di Filipina, air kelapa dimanfaatkan untuk proses pembuatan minuman, jelly, alkohol, dektran, cuka, dan nata de coco.
Di Indonesia, air kelapa digunakan sebagai minuman (air kelapa muda) dan media pembuatan nata de coco.Apa saja manfaat air kelapa?:
Kelapa ijo merupakan salah satu jenis dari berbagai spesies yang pada pohon kelapa. Secara fisik sangat sulit untuk membedakan mana yang kelapa ijo dan hijau. Tapi, setelah dibelah, baru telihat perbedaannya. Kelapa ijo jika dikupas, seratnya berwarna merah. Rasa airnya rada pahit, tidak seperti kelapa hijau yang segar kendati tidak dicampur dengan gula.Kelapa ijo ditengarai merupakan obat terbaik untuk beberapa penyakit seperti: panas dalam, sembelit, penetral racun, demam berdarah, cacingan, disentri.
Bila digunakan untuk membasuh muka, maka manfaat kelapa ijo bisa menghilangkan jerawat, menghaluskan kulit muka, mengencangkan kulit (anti aging) dan bila digunakan untuk keramas, bisa mencegah timbulnya uban.Selain itu, kelapa ijo juga bisa dijadikan terapi gurah, caranya dengan mengembunkan satu malan air kelapa ijo, lalu diminum paginya. Bila hal ini dilakukan setiap pagi, insya Allah suara akan menjadi lebih panjang dan merdu.
Sumber:http://www.indonesiaindonesia.com/f/1076-manfaat-kelapa-muda/
Selengkapnya (More)...Antonio’s Song
Antonio lives life’s fervor.
Antonio prays for truth.
Antonio says our friendship is a Hundred proof.
The vulture that circles Rio hangs in this L.A. sky.
The blankets they give the Indians only make them die.
*But sing the song forgotten for so long and let
The music flow like light into a rainbow
We know the dance we have
We still have a chance to break this chains and flow
Like light into the rainbow
Antonio loves the desert.
Antonio prays for rain
Antonio knows that pleasure is the child of pain
Lost in la Califusa when most of my hope was gone
Antonio samba led me to the Amazon. .
*(Repeat)
The Lady Wants To Know
Daddy plays the ashtray
Baby starts to cry
The Lady wants to know the reasons why
Daddy’s just like Coltrane
Baby’s just like Miles
The Lady’s just like heaven …when she smiles
Chorus:
And the Lady wants to know
She wants to know the reasons
Got to know the reasons why
This man has got to go
This man is always leavin’
How he hates to say goodbye
But what she doesn’t know
There really is no reason
There really is no reason why
“Instrumental Interlude”
(Repeat chorus)
Daddy he hates airplanes
Baby loves to fly
The Lady wants to know the reason why
Daddy’s just like Coltrane
Baby’s just like Miles
The Lady’s just like heaven when she smiles
(Repeat chorus)
Selengkapnya (More)...
Hidrokarbon yang dimaksud adalah Gas Alam dan produk-produknya seperti LPG, Gas Campuran dll, Minyak bumi dan produk-produknya seperti minyak tanah, solar dll
Kromatografi Gas adalah Peralatan yang digunakan untuk Melakukan Analisa Komposisi dari gas yang dianalisis
Ada 2 jenis Gas Alam
• Gas alam basah (wet natural gas-associated gas)
• Gas alam kering (dry gas natural gas-non associated gas)
Gas Alam Basah (Wet Natural Gas-Associated Gas)
• Fluida didalam sebuah reservoir berada dalam bentuk fase gas yang kemudian dialirkan kepermukaan berubah menjadi liquid (cairan)
• Memiliki nilai API + 10
• Memiliki Gas Oil Ratio diatas 100.000
Gas Alam Kering (Dry Natural Gas-Non Associated Gas)
• Fluida didalam sebuah reservoir berada dalam bentuk fase gas yang kemudian dialirkan kepermukaan tetap dalam kondisi gas
• Tidak memiliki nilai API
• Tidak memiliki GOR
KOMPONEN GAS ALAM (komposisi dari gas alam)
• METANA-CH4
• ETANA-C2H6
• PROPANA-C3H8
• iso-BUTANA-iC4H10
• normal-BUTANA-nC4H10
• iso-PENTANA-IC5H12
• normal-PENTANA-nC5H12
• HEKSANA-C6H14
• HIDROKARBON LAIN YANG LEBIH BERAT (C7 plus)
• KARBONDIOKSIDA
...(to be continued)
(yang berminat silakan minta lewat kumentar, nanti saya email saja yang lengkap dari tulisan diatas)
Selengkapnya (More)...
Sebelum dimulai tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada yang sudah menuliskan komentarnya pada tulisan sebelumnya.
Sehari sebelum ini, saya di telephon temen karib saya, euy ajarin gua GC liquid dunk….untuk permohonan temen saya itu saya coba tuangkan ke dalam tulisan ini, kepada para pakar saya minta tolong sumbang sarannya.
Hidrokarbon cair atau dalam hal ini yang saya maksudkan adalah minyak bumi, memiliki komposisi hidrokarbon dari mulai CH4 sampai C…..(tergantung dari minyak bumi nya, tidak ada yang bisa mengetahuinya sebelum dilakukan analisis, alias hanya Tuhan yang tahu). Komposisi hidrokarbon dari minyak bumi bisa dilakukan dengan menggunakan Gas Chromatography (GC).
GC yang bagaimana yang diperlukan untuk analisis ini?
1. GC yang dilengkapi dengan Detektor FID
2. GC yang dilengkapi dengan kolom non-polar (DB-1, SPB-1, HP-1 dll)
3. Carrier gas, peralatan dasar seperti flow control, H2, dan Udara pada prinsipnya adalah sama untuk semua GC
4. Syringe (injektor)
Dari berbagai merk GC yang ada, semua pada prinsipnya adalah sama, yang membedakan adalah software penyertanya yang berfungsi sebagai acquisition data control, prinsip kerja sama. Pengaturan split ratio, pengaturan flow carrier, flow hidrogen, flow udara, dll. Pengaturan Flow ada yang manual ada yang sudah menggunakan APC/AFC (Automatic Pressure Control/Automatic Flow Control) yang manual masih diatur melalui regulator, sedangkan yang satunya sudah diatur melalui software. Kalo Agilent softwarenya Chemstation, Varian melalui Workstation dan Shimadzu memalui GC Solution.
Demikian gambaran singkatnya tentang GC yang akan kita gunakan, prinsipnya harus disesuaikan dengan keperluan. Untuk itu biasanya sudah disiapkan oleh Vendor dimana kita membeli instrument tersebut, user biasanya hanya menyesuaikan sedikit saja, seperti program temperatur dimana contoh akan dianalisa.
Program temperatur atau biasa disebut Condition Operation atau Ramp temp adalah sebuah program pengaturan yang disediakan software untuk mengatur temperatur di dalam oven dimana kolom berada. Dengan mengatur suhu kolom maka otomatis kita mengatur kecepatan pemisahan komponen yang masuk ke dalam kolom. semakin tinggi setting temperatur maka semakin cepat contoh yang ada di dalam kolom keluar, begitu pula sebaliknya, tetapi pertanyaannya adalah semakin cepat contoh keluar apakah juga dapat kita identifikasi komponen apa saja yang keluar? jawabnya TIDAK, contoh yang keluar terlalu cepat dari dalam kolom bahkan keluar dalam waktu yang hampir bersamaan akan membentuk peak-peak kromatogram yang hampir menyatu mustahil kita mampu mengindentifikasikannya, waktu yang singkat dalam pemisahan di kolom akan percuma karena kita tidak mampu mengidentifikasikan komponen apapun didalam contoh tersebut. Bagaimana jika diperlama? Adalah Ingin berapa lama kita melakukan analisis 24 jam? 32 jam? apakah kalau lama kita akan mampu meng identifikasi kan komponen hidrokarbon? mungkin saja tetapi apakah harus sedemikian lama hanya untuk menunggu pemisahan 10 atau 15 buah komponen. Disinilah letak point nya bagaimana kita menemukan sebuah kondisi pemrograman temperatur agar dengan waktu yang relatif singkat kita mampu mengindentifikasi komponen-komponen yang kita inginkan. Analisa komposisi hidrokarbon cair memerlukan sebuah pengaturan suhu yang cermat, berbeda dengan analisa komposisi gas alam yang hanya memerlukan pengaturan suhu isotherm.
Contoh sebuah ramping: Initial temperatur : 30ºC hold 30 min, 5ºC/min to 200ºC hold 50 min Artinya: Sample/contoh akan di analisa pada suhu awal 30ºC selama 30 menit, setelah 30 menit suhu akan naik 5ºC per menit sampai suhu 200ºC menit selama 50 menit
Kolom, berapa panjang kolom yang akan digunakan? Relatif. Sebanyak apa komponen yang akan anda pisahkan dan identifikasi dari minyak bumi, jika anda hanya ingin berapa jumlah fraksi ringan CH4 sampai dengan C5H12, atau anda hanya ingin berapa C4H10 nya maka kebutuhan anda hanya kolom dengan panjang 30 meter saja berbeda jika anda ingin mengidentifikasi sampai C9H20 atau sampai seluruh komponen hidrokarbon dalam minyak bumi tersebut taruhlah sampai C40H82 plus, maka minimal menurut hemat saya anda memerlukan panjang kolom sekitar 60 meter, kebutuhan nya akan berbeda, walaupun bisa saja fraksi ringan dianalisa dengan kolom 60 meter, peaknya juga semakin bagus, walau waktu yang diperlukan menjadi relatif lebih lama, tetapi default nya GC yang baru anda pesan biasanya dilengkapi dengan kolom test 3 meter dan vendor biasanya menggunakan kolom 60 meter.
Setelah GC anda siap dan telah di kondisikan, maka injeksikan sejumlah contoh dengan menggunakan syringe. Jumlah contoh tidak perlu terlalu banyak 2 µl sampai 5 µl sudah cukup. Biarkan GC bekerja memisahkan komponen-komponen hidrokarbon dalam minyak bumi anda. Waktu yang dibutuhkan bervariasi tergantung anda melakukan ramping permrograman suhu/temperatur analisa.
Analisa dinyatakan selesai jika baseline sudah kembali lurus, menandakan sample sudah habis ter elusi. Apakah analisa sudah selesai? Secara teknis ya selesai. Tetapi anda masih harus mengindentifikasikan dan melakukan analisa kuantitatif. Di sinilah saat nya anda harus mengidentifikasikan standar yang anda miliki pada kondisi operasi yang sama dengan saat sample/contoh di analisa/di run. Dengan membandingkan waktu retensi antara ke-dua nya (sample dan standard) maka secara kualitatif anda telah mampu mengidentifikasikan komponen-komponen yang anda ingin analisa. Misalnya anda ingin analisa C3H8, C4H10,C5H12, C6H14, C7H16, Benzene, dan Toluene maka anda harus melakukan injeksi standard komponen-komponen diatas pada kondisi operasi yang sama, maka komponen-komponen tersebut akan menghasilkan waktu retensi (RT) yang sama (terelusi pada RT yang sama). Hanya dengan membanding waktu retensinya maka anda dapat menyimpulkan/mengidentifikasi letak C3H8, C4H10,C5H12, C6H14, C7H16, Benzene, dan Toluene didalam sekumpulan peak minyak bumi, untuk informasi kenapa anda memerlukan standar, karena jumlah peak yang ada didalam minyak bumi bisa mencapai ratusan peak.
Senyawa hidrokarbon rantai lurus akan keluar berurutan sesuai urutan homolognya, tidak mungkin C6H14 akan keluar pada menit 7 dan C4H10 pada menit ke 8, senyawa benzene pun akan keluar lebih dahulu daripada Toluene, begitupula senyawa toluene akan lebih dahulu terpisahkan dibandingkan senyawa xylene.
Contoh chromatogram
chrom-1
Gambar diatas adalah salah satu hasil analisa berupa kromatogram. puncak/peak itulah yang menunjukkan setiap senyawa/komponen dari hidrokarbon minyak bumi. Identifikasi komponen adalah hal terpenting yang dalam setiap pekerjaan analisis setelah menentukan kondisi operasi GC. Gagl melakukan identifikasi maka tidak akan berguna hasil analisa GC yang dilakukan, anda akan mampu menghitung tetapi anda tidak tahu apa yang dihitung.
Identifikasi komponen didalam minyak bumi adalah seni, anda membandingkan bukan hanya terhadap waktu retensi nya saja tetapi juga terhadap patern yang dihasilkan. Minyak bumi memiliki patern yang sama, walaupun waktu retensinya berubah rubah. Waktu Retensi (RT) yang sama akan menunjukkan komponen yang sama pada kondisi operasi yang sama adalah semacam hukum tak tertulis, tetapi jika GC and tidak dilengkapi dengan AFC (Automatic Flow Control) atau alat sejenisnya maka RT yang dihasilkan cenderung berubah-rubah tergantung bagaimana anda melakukan injeksi.Setiap operator akan memiliki style masing-masing, dan itu akan menggeser RT tetapi dengan bantuan Autosampler kesalahan itu dapat diminimalisasi.
Setelah dilakukan identifikasi maka kita akan melakukan perhitungan berapa kandungan komponen yang akan dianalisis, misalnya kita akan menghitung berapa kandungan C4H10 dan C5H12 dalam suatu minyak bumi. Setelah dilakukan identifikasi terhadap C4H10 dan C5H12, maka kita mencatat berapa area dari komponen tersebut. C4H10 memiliki 2 komponen yaitu i-C4H10 dan n-C4H10, demikian juga dengan C5H12 memiliki i-C5H12 dan n-C5H12,(i =isomer, n = normal), jika anda ingin area setiap komponen isomer dan normal terpisah maka anda harus memisahkan setiap area nya, tetapi jika sebagao total maka anda harus menjumlahnya sebagai satu area saja.
Area setiap komponen akan otomatis tercatat begitu analisa selesai dilakukan, area tersebut dihasilkan dari software pemroses data (data acquisition), dan biasanya bisa di copy paste ke excel, atau di convert kedalam code ASCII.Setelah dilakukan pemindahan data ke excel maka perhitungan dapat dilakukan dalam excel. Area Total C4 misalnya 1000, area total C5 misalnya 1500, maka untuk mendapatkan berapa % C4 dan C5, anda harus mengetahui berapa total Area dari keseluruhan hasil analisa misalnya Total Area komponen dari contoh adalah 500.000, maka % C4=1000/500.000 x 100, %C5 =1500/500.000 x 100, kita akan dapatkan C4 = 0.2 % dan C5 = 0.3% dan sisanya adalah 99.5% adalah hidrokarbon lainnya. Satuan dari perhitungan diatas adalah % berat (Weight %). Mudah bukan? (Catatan: Perhitungan diatas dilakukan dalam bentuk normalisasi, sehingga hasil total adalah 100 %)
DIarsipkan di bawah: Oil and Gas Science | yang berkaitan: FID, GC, Hidrokarbon cair, identifikasi,
Selengkapnya (More)...
Reservoir Production Evaluation by Gas Chromatography Testing
Pekerjaan yang sulit, walau beberapa Laboratory service sudah mengumumkan beberapa tahun belakangan mampu melakukannya, jika 2 tahun lalu kita search di Google hanya ada Schlumberger sekarang mulai ada Intertek.
Kontaminasi ini terjadi pada saat kita melakukan sampling di bawah permukaan, BHS (bottom Hole Sampling). Alat BHS diturunkan bijaksananya adalah pada saat clean up well sudah selesai sehingga fluida yang mengalir adalah fluida reservoir yang sudah bersih bukan lagi masih tercampur dengan drill mud, teteapi bisa saja karena sesuatu dan lain hal, drill mud yang masih ada ikut terambil pada saat sampling “BHS” dilaksanakan.
Kontaminasi ini terlihat manakala di analysis oleh GC, patern chromatogram yang dihasilkan oleh sample memiliki kelainan, ada kenaikan yang cukup signifikan pada wilayah C10 sampai C20. Kondisi ini dikarenakan sample terkontaminasi drill mud yang memang memiliki hidrokarbon berat.
Analisis kualitatif menunjukkan hal (kontaminasi) ini memang terjadi. Analisis kualitatif dilakukan dengan membandingkan/overlay sample yang telah tercemar dengan drill mud yang telah digunakan.
Drill mud oil base memiliki 2 komposisi utama yaitu mud (solid) dan oil (liquid), memisahkan solid bisa dilakukan dengan “sentrifuge” atau di “settling”, tetapi oil (liquid) nya sudah menyatu dengan sample tidak bisa dipisahkan kembali, sehingga yang bisa dilakukan adalah hanya mengukur derajat kontaminasi dalam skala % (degree of contamination by oil based mud)
Melakukannya pun tidak mudah sample yang terkontaminasi harus dibandingkan dengan drill mud, kemudian internal standard yang tersedia, membuat simulasi derajat kecemaran, pun demikian perlu kiranya diskusi dengan teman-teman yang ada di lokasi pengeboran dari well testing melihat hasil-hasil dari alat yang ada hasil API sample, kondisi running BHS, air formasi pada saat sampling dll , sehingga hasil yang dihasilkan merupakan hasil yang relatif lebih akurat, wallahualam.
nb: Melalui tulisan ini semoga ada pencerahan dari rekan-rekan di luar yang menghadapi problem yang sama
Selengkapnya (More)...
Translated from the Chinese By LIONEL GILES, M.A. (1910)
I. LAYING PLANS
1. Sun Tzu said: The art of war is of vital importance to the State.
2. It is a matter of life and death, a road either to safety or to ruin. Hence it is a subject of inquiry which can on no account be neglected.
3. The art of war, then, is governed by five constant factors, to be taken into account in one's deliberations, when seeking to determine the conditions obtaining in the field.
4. These are: (1) The Moral Law; (2) Heaven; (3) Earth; (4) The Commander; (5) Method and discipline.
5. The Moral Law causes the people to be in complete accord with their ruler,
6. so that they will follow him regardless of their lives, undismayed by any danger.
7. Heaven signifies night and day, cold and heat, times and seasons.
8. Earth comprises distances, great and small; danger and security; open ground and narrow passes; the chances of life and death.
9. The Commander stands for the virtues of wisdom, sincerely, benevolence, courage and strictness.
10. By method and discipline are to be understood the marshaling of the army in its proper subdivisions, the graduations of rank among the officers, the maintenance of roads by which supplies may reach the army, and the control of military expenditure.
11. These five heads should be familiar to every general: he who knows them will be victorious; he who knows them not will fail.
12. Therefore, in your deliberations, when seeking to determine the military conditions, let them be made the basis of a comparison, in this wise:--
13. . (1) Which of the two sovereigns is imbued with the Moral law?(2) Which of the two generals has most ability? (3) With whom lie the advantages derived from Heaven (4) On which side is discipline most rigorously enforced? (5) Which army is stronger?(6) On which side are officers and men more highly trained? (7) In which army is there the greater constancy both in reward and punishment?
14. By means of these seven considerations I can forecast victory or defeat.
15. The general that hearkens to my counsel and acts upon it, will conquer: let such a one be retained in command! The general that hearkens not to my counsel nor acts upon it, will suffer defeat:--let such a one be dismissed!
16. While heading the profit of my counsel, avail yourself also of any helpful circumstances over and beyond the ordinary rules.
17. According as circumstances are favorable, one should modify one's plans.
18. All warfare is based on deception.
19. Hence, when able to attack, we must seem unable; when using our forces, we must seem inactive; when we are near, we must make the enemy believe we are far away; when far away, we must make him believe we are near.
20. Hold out baits to entice the enemy. Feign disorder, and crush him.
21. If he is secure at all points, be prepared for him. If he is in superior strength, evade him.
22. If your opponent is of choleric temper, seek to irritate him. Pretend to be weak, that he may grow arrogant.
23. If he is taking his ease, give him no rest. If his forces are united, separate them.
24. Attack him where he is unprepared, appear where you are not expected.
25. These military devices, leading to victory, must not be divulged beforehand.
26. Now the general who wins a battle makes many calculations in his temple ere the battle is fought. The general who loses a battle makes but few calculations beforehand. Thus do many calculations lead to victory, and few calculations to defeat: how much more no calculation at all! It is by attention to this point that I can foresee who is likely to win or lose. (to be continued)
Selengkapnya (More)...
Label: Seni Perang, Sun Tzu, The Art of War
FROM SAMPLE COLLECTION TO MEASUREMENT
This volume focuses on three types of petroleum analytical methods:
• methods that measure a TPH concentration;
• methods that measure a petroleum group type concentration; and
• methods that measure individual petroleum constituent concentrations.
These three types of methods measure different petroleum hydrocarbons that
might be present in petroleum-contaminated environmental media. TPH methods
generate a single number that represents the combined concentration of all petroleum
hydrocarbons in a sample, which are measurable by the particular method
(See discussion in Section 3 regarding limitations of TPH data). Petroleum group
type methods separate and quantify different categories of hydrocarbons (e.g., saturates,
aromatics, and polars/resins). The results of petroleum group type analyses
can be useful for product identification because different products (e.g., gasoline,
fuel oil no.2, and jet fuel) can have characteristic levels of various petroleum
groups (see Appendix II for a detailed characterization of petroleum products).
Individual constituent methods quantify concentrations of specific compounds
that might be present in petroleum-contaminated samples, such as benzene, ethylbenzene,
toluene, and xylenes (BTEX), and polycyclic aromatic hydrocarbons
(PAHs). Concentration data for individual petroleum constituents can be used to
evaluate human health risk, provided the necessary toxicity data are available.
Although these three method types measure different petroleum hydrocarbon
categories, there are several basic steps that are common to the analytical processes
for all methods, no matter the method type or the environmental matrix. This
section will focus on these basic steps. Sections 5, 6 and 7 review analytical methods
that can provide the three different types of petroleum concentration data.
Most of the common analytical steps are related to the separation of analytes of
interest from a sample matrix prior to their measurement. In general, these steps are:
• Collection and preservation - requirements specific to environmental matrix
and analytes of interest
• Extraction - separates the analytes of interest from the sample matrix
• Concentration - enhances the ability to detect analytes of interest
• Cleanup - may be necessary to remove interfering compounds
• Measurement - quantifies the analytes.
Each step affects the final result, and a basic understanding of the steps is vital
to data interpretation.
COLLECTION AND PRESERVATION OF ENVIRONMENTAL SAMPLES
The ability to collect and preserve a sample that is representative of the site is a
critically important step. Obtaining representative environmental samples is
always a challenge due to the heterogeneity of different sample matrices.
Additional difficulties are encountered with petroleum hydrocarbons due to the
wide range in volatility, solubility, biodegradation, and adsorption potential of
individual constituents.
Most site investigations for assessment of petroleum hydrocarbon contamination
in the environment are regulated by the states. However, sample collection and
preservation recommendations follow U.S. EPA guidelines. A summary of the most
commonly used guidelines is included in Table 1. It should be noted that there
might be additional requirements in any given state. Before a sample is collected,
the particular state requirements must be investigated. Because of holding time
considerations, the laboratory must be selected and notified prior to the collection
of the samples.
SAMPLE EXTRACTION
For most analyses, it is necessary to separate the analytes of interest from the matrix
(i.e. soil, sediment, and water). Extraction of analytes can be performed using one
or more of the following methods:
• Extracting the analytes into a solvent
• Heating the sample (used in the analyses of volatile compounds)
• Purging the sample with an inert gas (used in the analyses of volatile compounds).
There are a variety of common sample extraction techniques. See Table 2.
Soxhlet, sonication, supercritical fluid, subcritical or accelerated solvent, and
purge and trap extraction have been promulgated by the U.S. EPA as soil extraction
methods. Headspace is recommended as a screening method. Shaking/vortexing
is presently not approved by EPA, but is quite adequate for the extraction of
petroleum hydrocarbons in most environmental samples.
For these extraction methods, the ability to extract petroleum hydrocarbons
from soil and water samples depends on the solvent and the sample matrix.
Surrogates (compounds of known identity and quantity) are frequently added to
monitor extraction efficiency. Environmental laboratories also generally perform
matrix spikes (addition of target analytes) to determine if analytes are retained by
the soil or water matrix.
Solvents have different extraction efficiencies. Extracting the same sample in the
same manner by two different solvents may result in different concentrations. The
choice of solvents is determined by many factors such as cost, spectral qualities,
method regulations, extraction efficiency, toxicity, and availability. Methylene chloride
has been the solvent of choice for many semivolatile analyses due to its high
extraction efficiency, low cost, and specification by many state regulatory methods.
Chlorofluorocarbon solvents such as trichlorotrifluoroethane (Freon 113) have
been used in the past for oil and grease analyses because of their spectral qualities
(they do not absorb in the 2930 cm-1 infrared measurement wavelength) and low human toxicity. The EPA is phasing out use of chlorofluorocarbons, however, due
to their detrimental effects on stratospheric ozone. Tetrachloroethene and carbon
tetrachloride are possible replacements. Methanol is the most common solvent
used to preserve and extract volatiles such as BTEX in soils. Figure 2 illustrates the
typical solvents used for different analyses.
Water Samples
Water extraction methods in common use include the following:
For Volatiles:
• Purge and trap
• Headspace
For Semivolatiles:
• Separatory funnel extraction
• Continuous liquid-liquid extraction
• Solid phase extraction.
Volatile compounds (gasoline, solvents) in water are generally separated from
their matrix by purging with an inert gas and trapping the compounds on a
sorbent (EPA 5030, purge and trap analysis). The sorbent is later heated to
release the volatile compounds, and a carrier gas sweeps the compounds into a
gas chromatograph.
Headspace analysis is recommended as a screening method by EPA (Methods
3810, and 5021), although it performs well in particular situations, especially field
analysis. In this method, the water sample is placed in a closed vessel with a headspace
and heated to drive volatiles into the gas phase. Addition of salts or acids may
enhance this process. In headspace analysis, instrument contamination is minimized
because only volatile compounds are introduced into the instrument.
Samples containing heavy oils and high analyte concentrations can severely contaminate
purge and trap instrumentation.
The most commonly used water extraction method for semivolatiles is EPA
Method 3510, separatory funnel extraction. The sample is poured into a funnelshaped
piece of glassware, solvent is added, and the mixture is shaken vigorously.
After layer separation, the extract (i.e., the solvent layer) is removed, filtered, dried
with a desiccant, and concentrated. Multiple extractions on the same sample may
increase overall recovery.
Another commonly used water extraction method for semivolatiles is EPA 3520,
continuous liquid-liquid extraction. Rather than shaking solvent with the water
sample, the solvent is continuously heated, nebulized (broken into small droplets),
and sprayed on top of the water. Liquid-liquid extraction is excellent for samples
containing emulsion-forming solids, but it is more time-consuming than separatory
funnel extractions.
Solid phase extraction (SPE, EPA Method 3535) also can be used for extraction
and concentration of semivolatile material. The technique involves passing the
water sample through a cartridge or disk containing an adsorbent such as silica or alumina. The adsorbent is often coated with compounds that impart selectivity for
particular products or analytes such as PAHs. After extraction, the analytes are separated
from the solid phase by elution with a small amount of organic solvent. A
variant of SPE involves dipping a sorbent-coated fiber into the water (solid phase
micro-extraction, or SPME). Adsorbed analytes are thermally desorbed directly
into a heated chromatographic injection port. SPE uses much less solvent and
glassware than separatory funnel and liquid-liquid extraction.
source:
Analysis of Petroleum Hydrocarbons in Environmental Media (American Petroleum Institute,Association for the Environmental Health of Soils,Association of American Railroads,
British Petroleum,Chevron Research and Technology Company,Exxon Biomedical Sciences, Inc.,Retec, Inc., Shell Development Company, United States Air Force, Air Force Research Laboratory, University of Massachusetts)
Selengkapnya (More)...
Label: BTEX, environment, EPA, extraction, hydrocarbon, Petroleum, Petroleum Analysis, sample, samples, TPH, water
Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayah merupakan contoh pemimpin yang saleh. Dikisahkan, pada hari pertama menjadi khalifah, ia berpidato, ''Saya bukan lebih baik dari kalian, melainkan sayalah yang paling berat membawa beban.''
Kepemimpinan adalah tanggung jawab yang sangat berat. Tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Fatimah, istri Umar bin Abdul Aziz, selalu melihat suaminya menangis di masjidnya. Padahal, negara yang dipimpinnya telah benar-benar makmur. Semua rakyat merasa dipenuhi hak-haknya.
Ketika Fatimah menanyakan soal tangis suaminya itu, Khalifah Umar pun mengatakan, ''Saya lagi merenungi nasib rakyat, takut masih ada di antara mereka yang lapar, yang sakit tanpa pengobatan, yang tidak mempunyai pakaian, yang didzalimi, yang terasing, yang tua bangka tanpa ada bantuan, yang miskin dan mempunyai banyak keluarga, dan lain sebagainya di belahan negeri ini. Saya tahu di hari kiamat nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.
Saya takut kalau saya tidak mempunyai alasan yang benar. Karenanya saya menangis.'' Umar bin Dur meriwayatkan, suatu hari ia melihat Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang bersedih dan ia pun bertanya penyebabnya. Khalifah Umar menjawab, ''Siapa saja yang berada pada posisi seperti saya pasti akan bersedih. Bayangkan, saya selalu memikirkan bagaimana menyampaikan setiap hak kepada masing-masing rakyat, baik ia minta ataupun tidak.''
Setiap malam, seperti diriwayatkan Atha', Khalifah Umar mengumpulkan para ulama, duduk bersama-sama, merenung tentang kematian dan hari kiamat. Lalu mereka sama-sama menangis seakan menangisi seseorang yang baru saja meninggal dunia.
Rasa takut akan siksaan Allah di hari kiamat benar-benar terhunjam dalam diri Umar. Dari sinilah kemudian terpancar perilaku kepemimpinannya yang sungguh menyebarkan kesejahteraan bagi semua rakyatnya. Bila Umar berkhutbah di hari Jumat, ia pun selalu mengingatkan kepada jamaah, ''Wahai manusia, perbaikilah apa yang tidak tampak dari perilakumu niscaya yang tampak akan baik dan berbuatlah untuk akhiratmu niscaya duniamu akan cukup.''
Wahib bin Al-Ward menceritakan, ketika sekelompok kerabat Umar datang dan minta tambahan harta, sang khalifah hanya menjawab, ''Saya takut akan siksaan Allah yang pedih bila saya berbuat maksiat.'' Dalam riwayat As-Suythi disebutkan, hanya dua tahun lima bulan Umar memimpin, tapi rakyat di seluruh negeri benar-benar menikmati buah keadilan yang ditegakkannya.
Juga disebutkan, sebelum menjabat Umar mempunyai empat puluh ribu dinar. Ketika wafat, ia hanya mempunyai empat ratus dinar. Amru bin Muhajir bercerita, Umar tidak pernah memakai hak milik negara untuk kepentingan pribadi. Hasan Al-Qashab menyebutkan, kesalehan Umar sebagai pemimpin ternyata telah memancarkan rahmat tidak hanya kepada rakyat melainkan juga kepada binatang.
Diriwayatkan, selama kemimpinan Umar, serigala dan kambing hidup berdampingan dalam satu padang gembala. Ketika ditanya bagaimana mungkin serigala itu tidak menyerang kambing, sang pengembala menjawab, ''Bila kepala baik, maka seluruh badan akan baik.''
Oleh : Amir Faishol Fath
(Bukan sekedar hanya bernostalgia terhadap sejarah, kemauan dan keinginan yang kuat yang berasal dari sebuah tekad yang membaja akan mampu melahirkan pemimpin yang memiliki wawasan sebagaimana Tokoh diatas...insha Allah hal tersebut bukan tidak mungkin...)
Quick Methods For Detecting Hydrocarbon in Samples
Diposting oleh Budhisantoso97 on Kamis, 26 Februari 2009
Fluorescence, Cut, Stain
• Frequently an oil stain may be observed with the naked eye in washed sample or cores.
• Chances of detecting a show are a little bit difficult if a crude oil emulsion mud is being used.
• Cutting containing HC will usually fluorescence while other cutting will remain dark
• Dry gas, which contains little or no distillate will not fluorescence.
• Distinguish between mineral with HC fluorescence:
Mineral florescence will usually have a sharp boundary while HC fluorescence will not.
Mineral florescence will not usually have cut while HC will have. Cut is the surest method of distinguishing between HC fluorescence with Mineral fluorescence. A cut may be obtained from HC, but never from minerals.
The color of fluorescence from HC usually blue-white (similar to the flame color of welding torch)
• In Carbonate, the presence of fluorescence without any confirming evidence such as a cut or gas show, does not constitute a HC show.
• The higher the API gravity of the HC in the cutting, the brighter the fluorescence will be. (Bright, blue-white, to violet color) similar to that shown by refined petroleum product)
• Very low API gravity HC fluorescence with brown or orange color that is often hard to observe.
• HC in the cutting will be released and will appear as ribbons of fluorescence when mixed with chlorothene.
• Contaminated cutting may give a cut.
• In the cutting contains considerable free oil, the solvent will become visibly discolored and a sticky, fluorescent brown ring will remain when the solvent evaporates.
Selengkapnya (More)...
AFAIK : As Far As I Know
ASAP : As Soon As Possible
BBL : Be Back Later
BBIIAF : Be Back A Flash
BFN : Bye For Now
BRB : Be Right Back
BTW : By The Way
CUL : See You Later
CMIIW : Corect Me If I'm Wrong
F2F : Face to Face
FYA : For You Amusement
FYI : For Your Information
GBU : God Bless You
HAYT : How Are Today
HHOK : Ha... Ha... Only kidding
IAFAU : I Am Fine And You (?)
IWMP : It Was My Pleasure
IMHO : In My Humble Opinion
IMO : In My Opinion
J/K : Just Kidding
LOL : Laughing Out Loud
NP : No Problem
OIC : Oh, I See
OTOH : On The Other Hand
OTF : On The Floor
ROTFL : Rolling On The Floor Laughing
TNX : Thanks
TIA : Thanks in Advance
YMMSVH : You Make Me So Very Happy
WB : Welcome Back
YW : Your Welcome
JAPRI : Jalur Pribadi
tambahan dikit :
DST : Dan Seterusnya (ya sudah tahu donk!)
DKK : Dan Kanak-kanak (Wah salah tuh! Yang benar Dan Kawan-kawan)
DLL : Dan Lupa Lagi (wah masa' sih yang ini nggak ngerti?)
DAB : Dan Aku Bingung (wah tambah ngawur, mana ada singkatan ini)
MAS : Maksudnya Apa Sih?(wah ini sih judul tulisannya...)
Ada yang punya tambahan?
Selengkapnya (More)...
Saya kira, manajemen model "padang" layak juga diterapkan di sektor jasa maupun produksi lainnya.
Ada sebuah manajemen yang menarik di Indonesia, setidaknya itu menurut saya, yaitu manajemen restoran padang. Mengapa demikian? Itu karena model manajemen ini menerapkan transparansi dalam keuangan dan pembagian keuntungannya lewat sistem bagi hasil.
Dampak dari model manajemen ini, memang tidak hanya pada faktor manajerial semata, tetapi juga berdampak pada faktor pelayanan. Dimana, pelayanan yang serba cepat menjadikan restoran padang dikenal. Kita pun juga bebas memilih menu. Menu pun bervariasi, begitu juga minumannya. "Menu Nano-Nano" begitulah, banyak orang yang menyebut buat aneka menu yang dihidangkan dan pasti dijamin halal.
Selain itu, kelebihan restoran padang adalah selain pelayanan cepat, juga lebih terkesan fleksibel. Artinya, hidangan yang kita pesan itu bisa saja dimakan di restoran tersebut, tapi kita bisa juga meminta karyawan restoran padang untuk membungkusnya dan kita santap di rumah. Dan satu lagi, masakan padang punya rasa yang khas, dan memenuhi selera hampir semua masyarakat dari berbagai negara. Selain itu, faktor kebersihan ruangan juga selalu mendapat prioritas.
Dalam manajemen ini, memang ada pemilik modal, dan ada pula tim manajemennya, dimana ada manajer dan karyawan. Pada karyawan sendiri ada yang bagian dapur induk (koki), book keeper (pembukuan), pantry (buat minuman), palung (pembawa makanan), teller (pembayar suplier), kasir, waiter dan waitress. Saya juga melihat, selain transparan, model manajemen bagi hasil itu telah menjadikan restoran padang punya ciri khas sendiri.
Dan, yang menarik lainnya adalah hubungan antara pemilik modal dengan manajemen lebih sebagai mitra. Karena apa? Mereka tidak mendapatkan gaji, namun mereka mendapatkan bagian dari keuntungan bersih restoran tersebut. Jadi, dalam memberikan keuntungan itu, memang ada pembagian untuk penanam modal sendiri dan ada pula bagian keuntungan untuk manajemennya atau karyawannya. Itu biasanya dibagikan setelah keuntungan dikurangi 2,5% untuk zakat.
Sedang pendapatan karyawan adalah dengan sistem poin. Jadi, setiap karyawan punya poin atau nilai. Dan, biasanya perhitungannya dilakukan setiap 100 hari sekali. Nilai tertinggi ada pada karyawan yang bekerja di dapur induk (koki).
Mengapa demikian? Karena, pada bagian inilah yang mampu memberikan nilai rasa menu makanan maupun minuman yang dihidangkan.
Saya kira, manajemen semacam ini, akan membuat mereka yang bekerja di restoran padang selalu punya semangat tinggi. Dengan semakin tinggi semangat mereka bekerja, menjadikan hasil yang diterima banyak. Kalau malas, hasilnya pun sedikit. Selain itu, sistem keuangannya yang selalu transparan menjadikan setiap karyawan level apa pun tahu, berapa omset yang diraih perusahaan dalam setiap harinya. Sehingga, hal itu menjadikan karyawan akan lebih termotivasi untuk maju. Di samping itu, manajemen padang juga mendidik karyawan lebih kompak bekerja. Sebab, tanpa ada kekompakan mereka bekerja, hasil yang diraih berkurang. Bahkan, bukan tak mungkin hal itu menimbulkan dampak pada pelayanan maupun rasa.
Oleh karena itu, saya kira manajemen padang ini bisa sebagai alternatif, dan cukup bagus untuk kita terapkan pada sektor jasa maupun produksi lainnya. Dan, satu hal lagi yang menarik adalah, karyawan restoran padang dengan manajemen seperti itu, tidak membuat setiap karyawan menanyakan kapan SK (surat keputusan) pengangkatan kerja itu dibagikan. Mereka juga tidak akan menanyakan kapan naik gaji. Sebaliknya, justru mereka akan berupaya, bagaimana harga poinya bisa selalu naik. Karena, harga poin inilah yang akan menentukan jumlah penghasilan setiap bulan. Jadi yang menentukan penghasilan adalah dirinya sendiri. Anda berani mencoba?
sumber:anonym
Selengkapnya (More)...
Label: manajemen, padang, rumah makan padang

Realisasi penerimaan cukai hasil tembakau Direktorat Bea dan Cukai sampai dengan 25 Februari 2009 mencapai Rp 8,088 triliun. Jumlah ini sudah mencapai 16,3% dari target penerimaan cukai di 2009 yang mencapai Rp 49,494 triliun.
Hal ini dikatakan oleh Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Yusuf Indarto dalam jumpa pers di Kantor Pusat Ditjen Bea dan Cukai, Jalan Ahmad Yani, Jakarta, Jumat (27/2/2009).
"Untuk mencapai target ini kita harus meningkatkan pengawasan untuk tindakan-tindakan cukai ilegal," ujarnya.
Yusuf mengatakan, untuk pengawasan cukai ilegal di Indonesia ada 3 area yang menjadi fokus Bea dan Cukai.
Pertama adalah area produsen rokok yang paling besar terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kedua adalah area jalur distribusi rokok di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Ketiga adalah daerah pemasarannya khususnya di luar pulau Jawa.
"Penerimaan cukai rokok ini porsinya 75% dari seluruh total penerimaan Ditjen Bea dan Cukai, tiap tahun jumlahnya selalu meningkat," ujarnya.
Pada 2008 sendiri penerimaan cukai hasil tembakau mencapai Rp 51,251 triliun di atas target yang ditetapkan yaitu Rp 45,717 triliun.
Dipaparkan Yusuf realisasi penerimaan cukai dari 2001 sampai 2008 selalu di atas target sebagai berikut :
- 2001 penerimaan cukai mencapai 99,38% di atas target
- 2002 penerimaan cukai mencapai 103% di atas target
- 2003 penerimaan cukai mencapai 101,08% di atas target
- 2004 penerimaan cukai mencapai 102,5% di atas target
- 2005 penerimaan cukai mencapai 103,1% di atas target
- 2006 penerimaan cukai mencapai 98,06% di atas target
- 2007 penerimaan cukai mencapai 106,17% di atas target
- 2008 penerimaan cukai mencapai 112,11% di atas target
Tampaknya merokok masih menjadi penerimaan negara yang cukup menggiurkan, alkisah menahan laju rokok dengan menerbitkan status haram, ternyata belum cukup mempan untuk mengetuk hati para perokok, naiknya harga rokok bukan jaminan berkurangnya jumlah perokok.
Indonesia masih menjadi surga para perokok.....
Sebuah ambiguitas dari negara yang mengharapkan cukai rokok sekaligus melarang rokok walau dengan malu malu......Label merokok dapat merugikan kesehatan disetiap bungkusnya hanya menjadi pesolek dan pemanis bagi setiap merk....
Label: cukai rokok, kesehatan, penerimaan negara, rokok